Pemilu dan Media

02:00

Pemilu menjadi topik yang hangat untuk dikonsumsi dalam beberapa bulan terakhir. Perhelatan akbar tersebut menjadi atensi setiap orang di berbagai penjuru Indonesia. Pemilu ini seperti Indonesian Idol-nya politik, yang dibumbui dengan rasa manis, pahit.. dan SARA. 

Pada dasarnya masyarakat berharap untuk memiliki pemimpin yang bisa membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Kebanyakan orang berpikir bahwa mereka telah memilih kandidat yang terbaik. Pada akhirnya, seluruh rakyat Indonesia yang menentukan pilihan terbaik. Setiap orang bakalan penasaran sama endingnya!

Di era reformasi seperti sekarang, pers telah membantu menjembatani para calon pemimpin dengan masyarakat luas. Terima kasih pers! #klininktongsengedisipemilu

Media memiliki peran aktif untuk memberikan berita terbaru, baik elektronik maupun media cetak. Makanya, setiap orang bebas berlomba-lomba untuk mencari informasi dengan akses tanpa batas sebanyak yang mereka inginkan. Media juga berlomba-lomba untuk memberitakan sesuatu yang baru. Baik itu valid ataupun berita yang dipertanyakan keabsahannya.

Kalau diperhatikan dengan seksama, kini media telah beralih fungsi. Bukan hanya untuk menginformasikan masyarakat, media juga berperan untuk menggiring opini publik terhadap suatu hal. Media ibarat arus air. Kalau arusnya besar, siap-siap saja tenggelam. Menelan semua yang diberikan media tanpa filter. 

Sebagai contoh, di TvOne dan MetroTV. TvOne gencar memberitakan tentang Prabowo-Hatta, sementara di MetroTV memberitakan tentang Jokowi-JK. Mungkin ini telah menjadi masalah umum ketika berita yang tidak netral atau tidak cover both side. Sebagian orang akan cerdas dalam menyikapinya, dan sisanya? Ya! menelan berita mentah-mentah.

Efek yang akan terjadi adalah debat kusir, misalnya di dunia maya. Berawal dari sebuah berita entah berantah kemudian berakhir dengan munculnya hujatan dan nama-nama binatang. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah ini merefleksikan masyarakat Indonesia sebenarnya? Begitu liar dan tidak terkontrol?

Mungkin. Apakah kita solid? Itu baru satu contoh kecil gimana dangkal dan irasionalnya kita dalam menyikapi suatu hal. Intinya, jangan jadikan perbedaan sebagai alasan untuk perpecahan, karena perbedaan adalah hasil dari kebebasan berpikir dan berpendapat.

You Might Also Like

0 comments

Ayooo! Dikomen dikomen. Dikomen dikomen.