Kabut Asap Kiriman dari Perspektif Orang Awam

00:18

*uhuk uhuk
*uhuk uhuk

Ya, anda salah!

Ini bukan karena faktor usia, tapi faktor kabut asap yang diimpor dari provinsi sebelah sejak beberapa hari yang lalu and it is even getting worseApalagi setelah saya baca kalau kebakaran ini yang terburuk dalam 7 tahun terakhir <<< ini lupa baca dimana akakakak

Hari ini makin sore makin burem, apalagi ditambah mati lampu sore ini sampai habis magrib, eh mungkin sampai isya. Jadi tadi pas keluar rumah, ini kompleks berasa spooky banget, gelap dan berkabut, sesek lagi. Nah, ini mata saya udah mulai perih perih, padahal saya lagi nggak mengiris bawang. Nyeeeh -..-

Di beberapa media cetak ataupun televisi, setiap saya melihat, isi beritanya adalah  Singapura mendapat asap kiriman dari Indonesia which is such as a huge problem for them. 

KEBAKARAN HUTAN

Nah, jadi saya berpikir lagi tentang apa yang dilakukan kedua negara, Indonesia dan Singapura [dalam hal ini kita sebut saja tetangga].

Pertama, tetangga yang jadi korban dan daerah saya juga jadi korban. Ya, mereka bilang itu asap kita, dan memang benar asap kita, walaupun bukan saya yang bakar hutan itu tapi itu hutan milik bersama atas nama bangsa Indonesia. Ya, tetangga mengeluh kepada kita.

Kedua, Indonesia alias rumah sendiri. Saya mengerti ini sepenuhnya bukan human error, namun terkadang hal-hal yang terjadi tergantung suasana alam. Alam berganti suasana karena human error #maksa hehe. Human error gimana?

Jadi gini, saat suatu musibah itu terjadi pasti selalu dikaitkan dengan pemerintah. Ya, saya mengerti kalau publik tidak percaya terhadap pemerintah saat ini. Tapiii, yang saya herankan adalah bencana apapun itu, pemerintah wajib disalahkan. Mirip sama iklan teh botol Sosro, apapun makanannya minumannya teh botol Sosro. Kalau di sini, apapun masalahnya salahkan pemerintah :v

Contohnya banjir datang, ada aja yang komen 'Pemerintah nggak peduli sama kebersihan lingkungan' padahal sebenarnya kita yang belum mendisiplinkan diri. That kinda stuff. 

Sesuai sama pasal 33 UUD 1945 
"Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat

Kita yang punya, kita yang bakar, kita yang kena asap kiriman sebesar-besarnya *lupakan

Kekayaan di sini termasuk hutan, kan? Pemerintah sebagai penguasa tadi berusaha untuk menangani kasus ini. Untuk saat ini, mereka sedang mengupayakan untuk menggunakan hujan buatan yang dananya konon sampai 25 miliar, and I appreciate that for doing something for the citizens. Kalau dibandingkan sama pawang hujan mahalan mana kira-kira? :D

Lalu, ini yang juga jadi pertanyaan buat saya. Lantas bagaimana kalau tiap tahun kebakarannya begini terus? Apa tidak ada upaya meminimalisir titik api?

Maksud saya, tiap tahun kebakaran hutan seperti ini kerap terjadi, seperti kerapnya saya galau *skip skip* Kalau tahun ini anggaran yang dikeluarkan 25m, bagaimana dengan tahun depan? Tahun depannya lagi? Dan 10 tahun kemudian? 100 tahun kemudian? Tidaaaaak!!!

Jadi apakah tidak sebaiknya kita mencari akar permasalahan daripada harus memadamkan api tiap tahun. Yang penting itu di sini adalah bagaimana penanganan sehingga tidak ada kebakaran, oke, ini impossible nggak ada kebakaran jadi kita ganti jadi mengurangi kebakaran. 

Sedikit bercerita lagi, ini saya pernah baca komik Firefighter Daigo, cuma sayang nggak banyak yang baca. Di sana ada satu chapter si Daigo pergi ke Indonesia untuk membantu pemadaman api di Lampung, which is happen every year. Nah, di sana itu kasusnya adalah ground fire, maksudnya ada zat yang memicu kebakaran dari dalam tanah #sotoy :D

Nah, jadi si Daigo itu bingung, tiap tahun kebakaran cuma sibuk memadamkan. Akar permasalahannya sendiri nggak pernah diketemukan.

Jadi yang saya inginkan adalah stop kegilaan dengan memadamkan api. Maksudnya jangan padamkan api setelah api muncul, tapi harus ada tindakan preventif dari pemerintah agar api nggak berkobar. Saya hanya mengharapkan persoalan yang terjadi di negeri ini disikapi secara bijak. Perlu solusi yang matang untuk mengatasi hal ini yaitu agar tahun besok kebakaran ini berkurang setidaknya. 

Ini bukan cuma masalah pemerintah, tapi juga masalah kita yang terkadang tidak acuh terhadap lingkungan. Ini tanggung jawab bersama.

ciao!

#tepar nulis segini lebar
#ga tau nulis apa

.....*ngacir

You Might Also Like

2 comments

Ayooo! Dikomen dikomen. Dikomen dikomen.